Pagi ini kami berjalan2 menyusuri beberapa jalan di kampus ui. Sblmnya, icha sang dokter muda kami lepas kepergiannya di st ui untk kembali ke kota tercintanya, jogjakarta. Sdkt pesan untk dia agar dia bersabar.
Jalan santai pagi ini serasa begitu nikmat. Ditemani udara pagi yg segar disertai hangatnya sinar mentari.
Perjalanan pun memasuki jalan antara fakultas sastra dan fisip ketika kami membahas tentang haji.
Setiap tahun negara tercinta ini mengirimkan ratusan ribu orang untk menunaikan ibadah haji. Tak tanggung, biaya haji yg skrng mencapai puluhan juta rupiah tersebut tdk membuat umat islam patah semangat. Bagi yg mampu dari sisi finansial mungkin bukan suatu mslh dg biaya sebesar itu,lantas,bagaimana dg orng yg tidak mampu? Sdkt demi sedikit mereka menyisihkan hartanya untk pergi haji. Dan ketika sdh terkumpul,mereka seperti daging yg dikerubuti srigala. Ironis,memang...mana kala hendak menunaikan ibadah,bukannya dipermudah,malah dipersulit.
Mahalnya transportasi dan akomodasi menjadi alasan utama. Benarkah? Mungkin ada benarnya karna tiket pesawat dan penginapan cukup mahal. Lantas,tdkkah bisa diturunkan harganya? Bukankah ada dana abadi umat yg mungkin bisa digunakan untk membangun penginapan di mekkah? Bukankah pada masa pendaftaran sd pemberangkatan,uang calon jama'ah haji berada pada rekening menteri? Tidakkah ada bagi hasil atas dana yg singgah sejenak di rekening tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan ini tentunya hanya akan dijawab oleh orang-orang yg kompeten berdasarkan peraturan yang berlaku. Dan tentunya, pemerintah juga telah berusaha meningkatkan pelayanan haji tentunya dengan harga yang terjangkau pula.

0 komentar:
Posting Komentar